Symphony Hidupku Part 2

Kamis, 24 Juli 2014

* 1 Harapan, 19 Juara *

Kini aku beranjak kekelas 5 SD. Aku sudah pindah sekolah sekarang, karena mengikuti ayahku bekerja. Aku mempunyai semangat dan motivasi untuk tetap melanjutkan bakatku yang dulu mungkin belum tersalurkan, karena aku yang sangat pemalu saat itu. Guruku masuk kekelasku
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi bu" Ucap serempak anak-anak yang sangat semangat pagi ini.
"Ibu ada pengumuman untuk kalian, siapa disini yang bisa menyanyi, tolong daftar sama bu Nita, karena ada lomba menyanyi tahun ini, maximal 5 orang akan bu Nita audisi disekolah".
Aku berfikir ini adalah kesempatanku lagi, yang dahulu aku sangat memalukan. Aku tidak kecewa dengan hasilku dulu, itu aku jadikan sebagai pengalaman, pengalaman yang tragis menurutku. Akhirnya aku bertemu dengan bu Nita, dengan percaya dirinya aku mendaftrakan diriku sendiri. Sekarang aku berbeda bahkan sangat berbeda. Dulu saat aku kelas 1 SD aku tidak pernah merasa percaya diri, entah karena faktor usia atau memang dulu aku pemalu, entahlah. Dengan penuh rasa semangat aku menulis namaku di formulir pendaftaran itu, yang aku fikirkan bukan lolos atau tidaknya dari audisi itu, yang aku fikirkan bagaimana aku bisa dan semangat lagi dalam menyanyi. Bu nita dan pak jackson yang membimbing aku dalam menyanyi saat itu.

***

Keesokan harinya. Audisi dimulai, aku sangat amat senang, disinilah bakatku aku tampilkan. dengan rasa percaya dirinya aku menyanyi dihadapan bu Nita, tak ada sedikitpun rasa gugup dibenakku. Hingga akhirnya aku lolos dari audisi disekolah itu. Senang hatiku, mungkin ini saatnya aku tak mengecewakan guru dan orang tuaku lagi. Bu Nita memberikan aku lirik lagu, entah kenapa lirik lagu itu membuatku tertegun aku menyanyikan lagu "Hamba Menyanyi" setelah melihat liriknya, aku bertambah semangat lagi, lirik ini sama seperti curahan hatiku saat ini. Hari disaat lomba dimulai, aku melihat segerombolan siswa dan siswi. Aku tidak gugup dan takut, seperti dulu. Aku duduk dengan tenang sambil menunggu nomer urutku. Nomer urutku adalah 19, masih teringat sampai sekarang. Nomer urutku dipanggil. Rasanya bertemu juri lagi bukan seperti malaikat pencabut nyawa. Mereka terlihat seperti dosen ataupun guru. Semangatku semakin menjadi-jadi melihat piala yang berkilauan itu. Aku menyanyi dengan sesuai kemampuanku. Akhirnya pengumuman pemenang juara pun diumumkan. Disinilah aku merasa gerogi, bahkan keringat dingin pun bercucuran. Para juri mengumumkan siapa yang menjadi juara 1,2,dan 3. Tak kusangka aku adalah 3 besar sekecematan Jati kabupaten Kudus. aku mendapat juara 3. Aku pun mengucapkan "Alhamdulilah". Senang rasanya melihat orang tuaku dan guruku tersenyum melihatku. Hingga kepala sekolah di SDku menciumku. Sungguh pengalaman yang tak terduga olehku. Bu nita mengucapkan selamat padaku
" Selamat ya surya, usaha kamu tidak sia-sia. Ibu bangga dengan kamu"
" Terimakasih bu, Terimakasih banyak telah membimbingku"
" Sama-sama Surya. Tetap semangat raih prestasi".


***


Selang beberapa minggu kemudian, aku mengikuti lomba ditingkat kabupaten. Bayangkan tingkat kabupaten kudus. Sempat sedikit merasa tidak percaya diri, tapi aku hapuskan dalam benakku. Aku dibimbing oleh pak Ponco. Pak ponco orangnya sangatlah tegas. Jika aku salah sedikit pak Ponco langsung memperbaiki. lomba dimulai, aku bernomer urut 1. Hahh menghela nafas. Aku nomer 1, entah kenapa saat itu aku tidak suka dengan nomer urut ini. Saat itu aku maju semaksimal mungkin. Aku menunggu penggumuman hingga akhirnya aku mendapat harapan 2 tingkat kabupaten Kudus,Jawa Tengah.






Karya

Catur Surya Waskitowati

0 komentar: