‘’Ayah mau
membelikan hadiah untuk Bunda?’’ sambil menebak-nebak
Ayah hanya diam.
Tidak seperti biasanya Ayah seperti ini. Sepertinya ada yang disembunyikan Ayah
dariku. Aku hanya diam dan berfikir aku mau dibawa kemana. Akhirnya semua yang
ada di fikiranku terjawab. Aku dibawa disebuah rumah sakit. Akupun tambah
bertanya-tanya siapa yang sakit ujarku dalam hatiku. Setiap aku menanyakan
sesuatu pada Ayah, Ayah pasti diam, tak mau menjawab. Aku dibawa kekamar rawat
inap. Aku hanya mengikuti Ayah. Karena percuma aku tanya kepada Ayah, Ayah
pasti tak mau mejawab. Ketakutanku semakin menjadi- jadi, aku masuk kamar dan
ternyata itu Bunda yang dirawat. Aku kaget Bunda sakit apa, sepertinya tadi
pagi sehat-sehat saja. Semakin takut lagi aku Bunda diberi alat oksigen.
Ya Allah apa yang terjadi pada Bunda. Bunga yang aku belikan untuk Bunda tiba-tiba jatuh, aku kaget. Ayah menjelaskan padaku, bahwa Bunda memiliki penyakit kanker payudara. Tapi aku heran kenapa selama didepanku Bunda selalu sehat, hingga aku sampai tak tau Bunda mempunyai penyakit Kanker Payudara. Aku tau alasan Ayah tak mau bercerita padaku. Ayah takut aku khawatir dan sedih. Itu alasan yang wajar. Tapi jika aku tau diakhir seperti ini, aku merasa kecewa, apakah selama ini aku kurang memerhatikan Bundaku, apa Bundaku yang sangat pintar merahasiakan penyakitnya padaku. Bunga yang jatuh tadi aku ambil lagi dan aku taruh di meja.
Ya Allah apa yang terjadi pada Bunda. Bunga yang aku belikan untuk Bunda tiba-tiba jatuh, aku kaget. Ayah menjelaskan padaku, bahwa Bunda memiliki penyakit kanker payudara. Tapi aku heran kenapa selama didepanku Bunda selalu sehat, hingga aku sampai tak tau Bunda mempunyai penyakit Kanker Payudara. Aku tau alasan Ayah tak mau bercerita padaku. Ayah takut aku khawatir dan sedih. Itu alasan yang wajar. Tapi jika aku tau diakhir seperti ini, aku merasa kecewa, apakah selama ini aku kurang memerhatikan Bundaku, apa Bundaku yang sangat pintar merahasiakan penyakitnya padaku. Bunga yang jatuh tadi aku ambil lagi dan aku taruh di meja.
‘’Bunda, cepat
sembuh ya. Aku sayang Bunda’’ sambil mengecup kening Bunda. Entah Bunda
mendengarkan atau tidak, karena saat itu Bunda sedang tidur. Akhir-akhir ini
aku lebih sering mengisi waktuku di rumah sakit menemani Bunda. Dari mulai
Bunda kemo terapi. Hingga aku tak melanjutkan sekolah dan memutuskan berhenti
sekolah, aku ingin merawat Bunda. Sebenarnya ayah tidak membolehkan aku untuk
tak melanjutkan sekolah. Tapi aku mengelak, aku ingin merawat Bunda. Meskipun
dirumah sakit. Tapi aku senang aku bisa merawat Bunda, menyuapinya saat makan,
membantunya saat minum obat. Hingga Bunda dioperasi. Akupun menemaninya. Hingga
tepat 1 Tahun bunda dirumah sakit. Aku melihat Bunda yang lemas dan lesu. Aku
tau bagaimana rasa sakit yang dialami Bunda. Aku hanya bisa menyabarkan Bunda
dan mendo’akan Bunda. Hingga keesokan harinya, tepatnya pagi aku mengecup
kening Bunda. Dan Bunda tersenyum padaku. Hingga saat itu juga Bunda mengalami
Koma. Aku disuruh keluar oleh Ayah, karena Bunda diperiksa oleh dokter. Aku
menunggu didepan pintu dan duduk disana. Aku menangis dan menangis. Lalu, ada
suster yang lewat dan menemaniku saat itu, aku menghapus air mataku.
‘’Kamu nangis,
kenapa adik?’’
‘’Ngak apa-apa kok
suster’’ aku menyembunyikan rasa sedihku.
‘’Yang sakit
siapa?’’
‘’Bunda’’ dengan
singkat aku menjawabnya
‘’Sakit apa dik?’’
‘’Kanker Payudara’’
‘’Dik, ikut suster
yuk, suster mau kekantin’’
‘’Ngak suster,
pingin disini aja’’
‘’Ayo, ngak
apa-apa’’
Akupun mengiyakan
mungkin suster itu ingin menghiburku. Tapi tetap saja aku cemas. Hingga Budeku
menemui aku kekantin dan memanggilku sekaligus memegang tanganku. Akupun diajak
ke kamar Bunda. Tak kuduga dan tak kusangka ketakutan itu merasuk dihatiku.
Bunda saat itu telah tertutup oleh selimut. Ayah yang saat itu menundukkan
kepalanya yang terlihat sedih. Akupun langsung menangis sekencang mungkin.
Hingga aku merasa sesak. Antara ikhlas dan tak ikhlas, apakah waktuku dengan
Bunda hanya sesaat. Aku memeluk Budeku. Akupun ikut memandikan Bunda dan sampai
kepemakamanpun aku ikut dan melihat langsung. Aku tak bisa membayangkan rasanya
Bunda terkubur oleh tanah, aku tidak rela, rasanya aku ingin berteriak
‘’Jangan’’ tapi tak bisa. Ini sudah takdir Allah, dan aku harus menerimanya.
Aku mencoba untuk mengikhlaskan dan mendo’akannya. Tahun ini tak ada Bunda
lagi. Tapi aku merasa dia selalu ada dihatiku. Tahun ini tepatnya tanggal 22
Mei adalah ulang tahun Bunda yang ke 41.
Seperti biasa aku merangkai bunga lagi. Tapi kali ini aku tak memberinya langsung, dan tak ada balasan kecupan dari Bunda seperti Tahun kemarin. Aku meminta Ayah untuk menemaniku kepemakaman Bunda. Ayahpun mau. Sampai dipemakaman aku kemakam Bunda dan mendo’akannya. Aku hanya menuliskan dibuku diary
Seperti biasa aku merangkai bunga lagi. Tapi kali ini aku tak memberinya langsung, dan tak ada balasan kecupan dari Bunda seperti Tahun kemarin. Aku meminta Ayah untuk menemaniku kepemakaman Bunda. Ayahpun mau. Sampai dipemakaman aku kemakam Bunda dan mendo’akannya. Aku hanya menuliskan dibuku diary
‘’Selamat
ulang Tahun Bunda, aku kangen sama Bunda, Bunda baik-baik ya disana, ini
rangkaian bunga untuk bunda, terimakasih bunda, telah menjadi ibu yang terbaik,
dan sabar dalam mendidikku, maafkan aku Bunda, jika aku membuat Bunda tak
tenang disana, karena aku cengeng, tapi aku sangat merindukan kehadiran Bunda,
Peluk jauh Bunda. Jum’at, 22 Mei 2007’’
0 komentar:
Posting Komentar