Terimakasih

Minggu, 05 Oktober 2014



Aku yang terduduk termenung dibangku sekolahku. Mengingat sejuta ilmu yang telah guruku berikan. Aku anak baru disekolah ini. Aya adalah namaku. Nama yang mungkin singkat tapi banyak makna dalam nama yang singkat itu. Tidak tau kenapa?, saat itu banyak yang membenciku. Entah karena segi kekuranganku, atau mereka iri padaku, entahlah. Akupun tak mau tau tentang itu.
‘’Aya, kenalin namaku Ita’’ dengan menjulurkan tangannya padaku.
‘’Iya…. Senang berkenalan denganmu’’ sambil tersenyum berbinar padanya.
Ita memang teman yang baik untukku. Dia ramah padaku, tak seperti teman-temanku yang lainnya. Tak banyak orang tau, bahwa ketika dulu aku duduk di Sekolah Dasar, aku tidak pintar. Memang, saat itu aku tidak pintar. Hingga banyak teman-temanku yang sangat membenci aku dengan segala kekuranganku. Kenapa aku tidak pintar saat itu?. Aku telat 1 tahun pendidikan disekolah, karena merawat ibuku yang sedang sakit kanker payudara. Memang keinginanku untuk tidak sekolah, aku ingin merawat ibuku yang sedang terbaring dirumah sakit. Awalnya teman-temanku sangat baik padaku, tapi semakin mereka mengenalku semakin mereka menjauh karena keterbatasanku saat itu.
‘’Huu… bodoh kau bodoh’’ sorak teman-temanku saat itu. Aku hanya terdiam, tapi cukup didalam hati ini aku merasa sakit yang tak terkira. Seperti biasa anak baru disekolah pasti di bully (di hina), memang selayaknya, tak ada sedikitpun rasa benci di hatiku.


***

Pulang sekolah, kebetulan rumahku dekat dengan sekolahku. Aku hanya berjalan kaki untuk menuju kerumah. Saat itu Ita temanku memanggilku.
‘’Aya …’’ dari jauh dia berkata padaku, mengejarku.
‘’Iya… loh kamu tidak pulang?’’ tanyaku pada sahabatku.
‘’Nanti, aku pingin main kerumahmu, sambil mau bicara sama kamu’’
‘’Kamu ngak takut dijauhin teman-teman kamu?, karena kamu dekat denganku’’
‘’Takut?. Ngapain takut sama mereka, hak-hak aku dong mau deket sama siapa aja, ya kan?. Takut itu sama Allah’’. Sambil memegang pundakku.
Sesampainya dirumahku, Ita banyak bercerita padaku. Tentang teman-teman yang tidak suka denganku
‘’Kamu yang sabar ya Aya…’’ sambil memegang pundakku
‘’iya, memang kenapa mereka tidak suka padaku?, apa salahku?, aku juga masih anak baru disekolah itu?’’ aku sambil menundukan kepalaku sambil air  mataku berjatuhan dipipiku.
‘’Sudahlah, mereka tidak suka padamu itu hal yang biasa, namanya juga hidup kan Ya’’
‘’Aku tau mereka tak suka denganku karena aku bodoh?, iya kan?’’
‘’Udah, ngak usah difikirin, ngak ada manusia yang bodoh kok didunia ini, mungkin mereka yang ngak tau latar belakang kamu, aku yakin’’ dengan menghiburku.
‘’Iya’’ dengan wajahku yang masih lesu dan sedih.

***
Saat ini aku duduk dibangku kelas 6 SD, sudah mau UN. Entah kenapa setiap aku berangkat sekolah aku merasa tertekan. Aku takut dihina oleh teman-temanku, dan rasanya aku ingin lulus dari SD. Pagi ini aku berangkat sekolah dengan niatku belajar. Tibanya disekolah aku hanya duduk dan aku hanya memandangi bukuku.
‘’Huu.. sok pintar, kalo udah bodoh, bodoh aja kali’’ saut Feby
Seperti biasa aku hanya diam, aku hanya berusaha sabar menghadapi mereka. Ya aku tau mereka sudah pintar dan lebih dariku. Ketidak pintaranku mereka memusuhiku. Tiba-tiba Ita masuk kekelas.
‘’Eh, hati-hati dong kalo ngomong’’ Dengan wajah yang marah dan merasa benci pada Feby
‘’Loh, emang bener kan dia itu ngak pintar alyas bodoh, udah deh ngak usah ngebela’’
‘’Sukanya ngehina orang terus, kamu  itu ngak tau Aya kayak apa, kalau iri bilang aja’’
‘’Aku? Iri sama  Aya?, Ih.. ngapain aku iri sama dia?, bagusnya dia apa coba?’’
‘’Kamu tu pura-pura ngak tau apa ngak mau tau, Aya kan menang juara menyanyi, lah kamu bisanya apa?’’
Aku saat itu langsung menarik tangan Ita yang terus emosi menangapi Feby.
‘’Udah Ta, ngak usah dibahas terus, dibiarin aja’’
‘’Dibiarin? Lama-lama kalau dibiarin tambah ngelunjak tau ngak’’
‘’Yang sabar aja, masalahnya ngak akan selesai kalau kamu ladenin terus, kita itu sekolah bukan untuk berantem’’
‘’Iya maafin aku Ya’’
Saat ini aku disibukkan oleh adanya les dan try out, karena sebentar lagi aku harus melewati UN.
Aku mencoba untuk sabar selama 4 tahun aku bersekolah di sekolah itu. Karena niatku hanya belajar, bukan mencari musuh. Dan mereka memang taka pa membenciku, memang kekuranganku ini menurut mereka adalah hal yang paling mereka tidak sukai. UN pun tiba, aku hanya berdo’a memohon yang terbaik. Selama disekolah aku selalu dihina oleh teman-teman mulai dari mereka menaruh ES dibangkuku, dan mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untukku. Buatku aku lebih baik tak punya teman sama sekali, dibanding aku harus berteman dengan orang yang selalu menghinaku dan menjerumuskan aku kelubang yang salah. Itu prinsipku. Saat UN selesai, khususnya perpisahan mereka sudah lumayan baik padaku. Entah karena terpaksa atau bagaimana, tapi aku hanya berfikir yang positif , semoga mereka benar-benar tulus.

***
Saat ini aku sudah memakai seragam putih biru, iya aku sekarang duduk dibangku SMP. Sekarang aku berusaha sekuat tenagaku aku ingin menjadi seseorang yang pintar agar aku tidak dihina lagi untuk yang kedua kalinya. Aku tidak pernah membenci temanku pada masa SD, justru aku ingin membuktikan padanya bahwa aku tak seperti yang mereka duga, dan aku ingin membuat mereka menyesal atas ucapannya yang menghinaku. Saat ulangan kenaikan kelas di SMP aku masuk menjadi peringkat 3 besar. Saat itu aku mempunyai teman di SMP, tapi berbeda kelas namanya Tifa, dia menghampiri kelasku.
‘’Aya, Feby itu teman SDmu?’’
‘’Iya, kenapa?’’
‘’Dia tanya-tanya soal kamu’’
‘’Tanya apa?’’
‘’Ya macam-macam, katanya dulu SD kamu bodoh benarkah?’’
‘’Iya’’
‘’Pantas saja, dia tidak percaya kalau kamu adalah peringkat 3 besar dikelasmu’’
‘’Ooo… memang jelas dia tidak percaya, dia yang menghinaku saat SD. Ya tidak apa-apa’’
‘’Ouwh gitu, ya sudah aku kembali kekelasku dulu ya’’
Tibanya aku pulang sekolah, aku langsung menganti pakaian dan sholat. Sehabis sholat hpku berdering dan ada SMS dari Ita
SMS ita           : Hay, Aya… selamat ya dapat ranking 3 besar… sukses ya.
Balasku           :  Iya makasih Ita…
Saat itupun aku lebih semangat dan semangat lagi, aku ingin teman-temanku yang menghinaku saat SD tau, bahwa seseorang yang mereka hina, juga bisa sukses seperti sekarang. Saat itu aku membuka situs jejaring sosialku. Aku mendapat chat dari temanku SD sebut saja Feby.
Feby     : Maafkan aku Aya, maafin ya kalau dulu aku selalu menghina kamu, mengangap kamu bodoh…           aku benar-benar menyesal atas perbuatanku
Balasku: Tidak apa-apa Feb, aku malah berterimakasih sama kamu, karena kamu dan teman-teman yang menghinaku aku menjadi seperti sekarang, mungkin tanpa hinaan kalian, aku tak bisa seperti ini, hehe…
Feby : Iya, makasih ya Surya. Selamat atas peringkat 3 besarnya’’
Disitulah, aku mulai menyimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai kekurangan apapun jika dihina mereka akan menjadi sukses suatu saat. Begitupula dengan apa yang aku alami. Mungkin tanpa mereka yang menghina kita, kita tak mungin sesukses ini. Akupun menulis diblog aku sebuah artikel
‘’Haters is Effect Of Succes, pembenci adalah efek untuk kesuksesan. Seseorang yang menghina dan bahkan membenci kita, tak seharusnya kita katakan ‘’benci’’ pada mereka justru kita harus mengatakan ‘’terimakasih’’ mereka adalah seseorang yang membuat kita optimis walaupun awalnya membuat kita sangat tersakiti oleh kehinaan mereka, tapi hinaan itulah yang membuat kita menjadi sukses. ‘’Orang yang memberi selamat padamu pertama kali adalah dia yang menghinamu’’.

0 komentar: