Aku
yang terduduk termenung dibangku sekolahku. Mengingat sejuta ilmu yang telah
guruku berikan. Aku anak baru disekolah ini. Aya adalah namaku. Nama yang
mungkin singkat tapi banyak makna dalam nama yang singkat itu. Tidak tau
kenapa?, saat itu banyak yang membenciku. Entah karena segi kekuranganku, atau
mereka iri padaku, entahlah. Akupun tak mau tau tentang itu.
‘’Aya,
kenalin namaku Ita’’ dengan menjulurkan tangannya padaku.
‘’Iya….
Senang berkenalan denganmu’’ sambil tersenyum berbinar padanya.
Ita
memang teman yang baik untukku. Dia ramah padaku, tak seperti teman-temanku
yang lainnya. Tak banyak orang tau, bahwa ketika dulu aku duduk di Sekolah
Dasar, aku tidak pintar. Memang, saat itu aku tidak pintar. Hingga banyak
teman-temanku yang sangat membenci aku dengan segala kekuranganku. Kenapa aku
tidak pintar saat itu?. Aku telat 1 tahun pendidikan disekolah, karena merawat
ibuku yang sedang sakit kanker payudara. Memang keinginanku untuk tidak sekolah,
aku ingin merawat ibuku yang sedang terbaring dirumah sakit. Awalnya
teman-temanku sangat baik padaku, tapi semakin mereka mengenalku semakin mereka
menjauh karena keterbatasanku saat itu.
‘’Huu…
bodoh kau bodoh’’ sorak teman-temanku saat itu. Aku hanya terdiam, tapi cukup
didalam hati ini aku merasa sakit yang tak terkira. Seperti biasa anak baru
disekolah pasti di bully (di hina), memang selayaknya, tak ada sedikitpun rasa
benci di hatiku.
***
Pulang sekolah, kebetulan rumahku dekat dengan sekolahku. Aku hanya berjalan kaki
untuk menuju kerumah. Saat itu Ita temanku memanggilku.
‘’Aya …’’
dari jauh dia berkata padaku, mengejarku.
‘’Iya…
loh kamu tidak pulang?’’ tanyaku pada sahabatku.
‘’Nanti,
aku pingin main kerumahmu, sambil mau bicara sama kamu’’
‘’Kamu
ngak takut dijauhin teman-teman kamu?, karena kamu dekat denganku’’
‘’Takut?.
Ngapain takut sama mereka, hak-hak aku dong mau deket sama siapa aja, ya kan?.
Takut itu sama Allah’’. Sambil memegang pundakku.
Sesampainya
dirumahku, Ita banyak bercerita padaku. Tentang teman-teman yang tidak suka
denganku
‘’Kamu
yang sabar ya Aya…’’ sambil memegang pundakku
‘’iya,
memang kenapa mereka tidak suka padaku?, apa salahku?, aku juga masih anak baru
disekolah itu?’’ aku sambil menundukan kepalaku sambil air mataku berjatuhan dipipiku.
‘’Sudahlah,
mereka tidak suka padamu itu hal yang biasa, namanya juga hidup kan Ya’’
‘’Aku
tau mereka tak suka denganku karena aku bodoh?, iya kan?’’
‘’Udah,
ngak usah difikirin, ngak ada manusia yang bodoh kok didunia ini, mungkin
mereka yang ngak tau latar belakang kamu, aku yakin’’ dengan menghiburku.
‘’Iya’’
dengan wajahku yang masih lesu dan sedih.
***
Saat
ini aku duduk dibangku kelas 6 SD, sudah mau UN. Entah kenapa setiap aku
berangkat sekolah aku merasa tertekan. Aku takut dihina oleh teman-temanku, dan
rasanya aku ingin lulus dari SD. Pagi ini aku berangkat sekolah dengan niatku
belajar. Tibanya disekolah aku hanya duduk dan aku hanya memandangi bukuku.
‘’Huu..
sok pintar, kalo udah bodoh, bodoh aja kali’’ saut Feby
Seperti
biasa aku hanya diam, aku hanya berusaha sabar menghadapi mereka. Ya aku tau
mereka sudah pintar dan lebih dariku. Ketidak pintaranku mereka memusuhiku.
Tiba-tiba Ita masuk kekelas.
‘’Eh,
hati-hati dong kalo ngomong’’ Dengan wajah yang marah dan merasa benci pada
Feby
‘’Loh,
emang bener kan dia itu ngak pintar alyas bodoh, udah deh ngak usah ngebela’’
‘’Sukanya
ngehina orang terus, kamu itu ngak tau Aya
kayak apa, kalau iri bilang aja’’
‘’Aku?
Iri sama Aya?, Ih.. ngapain aku iri sama
dia?, bagusnya dia apa coba?’’
‘’Kamu
tu pura-pura ngak tau apa ngak mau tau, Aya kan menang juara menyanyi, lah kamu
bisanya apa?’’
Aku
saat itu langsung menarik tangan Ita yang terus emosi menangapi Feby.
‘’Udah
Ta, ngak usah dibahas terus, dibiarin aja’’
‘’Dibiarin?
Lama-lama kalau dibiarin tambah ngelunjak tau ngak’’
‘’Yang
sabar aja, masalahnya ngak akan selesai kalau kamu ladenin terus, kita itu
sekolah bukan untuk berantem’’
‘’Iya
maafin aku Ya’’
Saat
ini aku disibukkan oleh adanya les dan try out, karena sebentar lagi aku harus
melewati UN.
Aku
mencoba untuk sabar selama 4 tahun aku bersekolah di sekolah itu. Karena niatku
hanya belajar, bukan mencari musuh. Dan mereka memang taka pa membenciku,
memang kekuranganku ini menurut mereka adalah hal yang paling mereka tidak
sukai. UN pun tiba, aku hanya berdo’a memohon yang terbaik. Selama disekolah
aku selalu dihina oleh teman-teman mulai dari mereka menaruh ES dibangkuku, dan
mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untukku. Buatku aku lebih baik
tak punya teman sama sekali, dibanding aku harus berteman dengan orang yang
selalu menghinaku dan menjerumuskan aku kelubang yang salah. Itu prinsipku.
Saat UN selesai, khususnya perpisahan mereka sudah lumayan baik padaku. Entah
karena terpaksa atau bagaimana, tapi aku hanya berfikir yang positif , semoga
mereka benar-benar tulus.
***
Saat
ini aku sudah memakai seragam putih biru, iya aku sekarang duduk dibangku SMP.
Sekarang aku berusaha sekuat tenagaku aku ingin menjadi seseorang yang pintar
agar aku tidak dihina lagi untuk yang kedua kalinya. Aku tidak pernah membenci
temanku pada masa SD, justru aku ingin membuktikan padanya bahwa aku tak
seperti yang mereka duga, dan aku ingin membuat mereka menyesal atas ucapannya
yang menghinaku. Saat ulangan kenaikan kelas di SMP aku masuk menjadi peringkat
3 besar. Saat itu aku mempunyai teman di SMP, tapi berbeda kelas namanya Tifa,
dia menghampiri kelasku.
‘’Aya,
Feby itu teman SDmu?’’
‘’Iya,
kenapa?’’
‘’Dia
tanya-tanya soal kamu’’
‘’Tanya
apa?’’
‘’Ya
macam-macam, katanya dulu SD kamu bodoh benarkah?’’
‘’Iya’’
‘’Pantas
saja, dia tidak percaya kalau kamu adalah peringkat 3 besar dikelasmu’’
‘’Ooo…
memang jelas dia tidak percaya, dia yang menghinaku saat SD. Ya tidak apa-apa’’
‘’Ouwh
gitu, ya sudah aku kembali kekelasku dulu ya’’
Tibanya
aku pulang sekolah, aku langsung menganti pakaian dan sholat. Sehabis sholat
hpku berdering dan ada SMS dari Ita
SMS
ita : Hay, Aya… selamat ya dapat
ranking 3 besar… sukses ya.
Balasku
: Iya makasih Ita…
Saat
itupun aku lebih semangat dan semangat lagi, aku ingin teman-temanku yang
menghinaku saat SD tau, bahwa seseorang yang mereka hina, juga bisa sukses
seperti sekarang. Saat itu aku membuka situs jejaring sosialku. Aku mendapat
chat dari temanku SD sebut saja Feby.
Feby : Maafkan aku Aya, maafin ya kalau dulu
aku selalu menghina kamu, mengangap kamu bodoh… aku benar-benar menyesal atas
perbuatanku
Balasku:
Tidak apa-apa Feb, aku malah berterimakasih sama kamu, karena kamu dan
teman-teman yang menghinaku aku menjadi seperti sekarang, mungkin tanpa hinaan
kalian, aku tak bisa seperti ini, hehe…
Feby :
Iya, makasih ya Surya. Selamat atas peringkat 3 besarnya’’
Disitulah,
aku mulai menyimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai kekurangan apapun jika
dihina mereka akan menjadi sukses suatu saat. Begitupula dengan apa yang aku
alami. Mungkin tanpa mereka yang menghina kita, kita tak mungin sesukses ini.
Akupun menulis diblog aku sebuah artikel
‘’Haters
is Effect Of Succes, pembenci adalah efek untuk kesuksesan. Seseorang yang
menghina dan bahkan membenci kita, tak seharusnya kita katakan ‘’benci’’ pada
mereka justru kita harus mengatakan ‘’terimakasih’’ mereka adalah seseorang
yang membuat kita optimis walaupun awalnya membuat kita sangat tersakiti oleh
kehinaan mereka, tapi hinaan itulah yang membuat kita menjadi sukses. ‘’Orang
yang memberi selamat padamu pertama kali adalah dia yang menghinamu’’.
0 komentar:
Posting Komentar