Hujan dipagi ini
menandakan kerapuhan hatiku, sedih di hatiku kini kian meraja. Aku yang hanya
dapat merenungkan segala kepedihan di hati ini. Berharap hujan dapat terhapuskan
dengan adanya pelangi indah sesudahnya. Rasanya aku sangat merindukan seseorang
yang paling berharga dalam hidupku. Ketakutanku kini semakin meraja dihati dan
fikiranku. Aku sangat takut dan takut. Entah apa yang ada difikiranku sekarang.
Besok adalah ulang tahun Bunda seperti biasa aku selalu membelikan setangkai
bunga untuk Bunda saat ulang tahun. Bagiku ialah yang paling berharga didunia
ini. Anugerah Allah telah memberikan Bunda yang cantik dan baik sepertinya.
Akhirnya hari yang aku nantikan tiba, hari ini Bunda ulang tahun yang ke 40
tahun. Aku yang baru saja bangun dari tempat tidurku mengucapkan ulang tahun
untuk Bunda, dengan wajah yang berlepotan dan rusuh saat bangun tidur aku
langsung ke dapur dan mengucapkan ulang tahun untuk Bunda.
‘’Bunda, selamat
ulang tahun. Semoga bunda tambah cantik, panjang umur, dan tambah sayang sama
Nia’’ sambil mengecup pipi Bunda.
‘’Ya sayang, iya
Amin… terimakasih ya sayang’’ sambil mengelus rambutku dan mengecup dahiku
Setelah aku
mengucapkan ulang tahun kepada Bunda, aku langsung mandi dan mempersiapkan seragam
untuk sekolah hari ini. Seperti biasa sebelum aku sekolah aku makan bersama
dengan Ayah dan Bunda. Disana kami bercanda tawa bersama. Dengan kakak-kakakku
tercinta. Berkumpul dengan mereka adalah hal yang ingin selamanya terjadi.
Mereka adalah satu-satunya harta yang berharga untuk aku. Akhirnya aku
berangkat sekolah dengan Ayah tak lupa aku berpamitan dengan Bunda dan mengecup
tangannya.
***
Tibanya di mobil aku
meminta sesuatu pada Ayah
‘’Yah, nanti pulang
sekolah anterin Nia beli Bunga untuk Bunda ya Ayah’’. Sambil tersenyum dengan
Ayah
‘’Iya, nanti Ayah
anterin ya’’
‘’Terimakasih ya
Ayah’’
Aku pun tiba
disekolah, hari ini aku senang dan semangat sekali. Begitupula aku mengikuti
pelajaran pagi ini. Aku hanya teringat Bunda dirumah, dan akan memberikan
kejutan untuk Bunda. ‘’Sepertinya Bunda sudah tau kalau aku akan membelikan
bunga’’ Fikirku. Tibanya aku pulang sekolah. Aku dijemput oleh Ayah dan aku
pergi ke Toko Bunga. Aku tidak tau bunga apa yang aku belikan untuk Bunda
sekarang, karena bunganya rata-rata sudah aku belikan untuk Bunda. Aku mencoba
untuk menggabungkan beberapa Bunga untuk Bunda, aku rangkai sendiri bunganya,
dan berharap bunda suka dengan bunga yang aku beri. Aku melihat Ayah meneteskan
air matanya ketika melihat aku membelikan Bunga untuk Bunda
‘’Ayah, kenapa?’’
sambil mengerutkan alisku
‘’Tidak apa-apa
Nak’’sambil mengelus kepalaku
‘’Benar Ayah?’’ aku
masih ragu dengan jawaban Ayah.
‘’Iya sayang,
lanjutkan merangkai bunganya”
Aku merasa seperti
aneh hari ini. Entah mengapa. Tiba-tiba Ayah menerima sms entah sms dari siapa.
Tapi sepertinya sms itu membuat wajah ayah yang tadinya sedih bertambah sedih
dan sangat takut. Aku masih melanjutkan merangkai bunganya, kurang sedikit lagi
aku menyelesaikannya. Akhirnya selesai aku merangkai bunganya. Akupun kembali
ke mobil dengan Ayah. Tapi aneh ini tak seperti biasanya. Ini bukan jalan
pulang kerumah. Akupun tanya pada Ayah
‘’Yah, ini bukan
jalan pulang’’ dengan memegang tangan Ayah yang menyetir mobil.
‘’Iya Nak, memang
bukan’’ dengan tenangnya Ayah mengucapkannya
0 komentar:
Posting Komentar