22 MEI part 1

Senin, 29 September 2014


Hujan dipagi ini menandakan kerapuhan hatiku, sedih di hatiku kini kian meraja. Aku yang hanya dapat merenungkan segala kepedihan di hati ini. Berharap hujan dapat terhapuskan dengan adanya pelangi indah sesudahnya. Rasanya aku sangat merindukan seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Ketakutanku kini semakin meraja dihati dan fikiranku. Aku sangat takut dan takut. Entah apa yang ada difikiranku sekarang. Besok adalah ulang tahun Bunda seperti biasa aku selalu membelikan setangkai bunga untuk Bunda saat ulang tahun. Bagiku ialah yang paling berharga didunia ini. Anugerah Allah telah memberikan Bunda yang cantik dan baik sepertinya. Akhirnya hari yang aku nantikan tiba, hari ini Bunda ulang tahun yang ke 40 tahun. Aku yang baru saja bangun dari tempat tidurku mengucapkan ulang tahun untuk Bunda, dengan wajah yang berlepotan dan rusuh saat bangun tidur aku langsung ke dapur dan mengucapkan ulang tahun untuk Bunda.
‘’Bunda, selamat ulang tahun. Semoga bunda tambah cantik, panjang umur, dan tambah sayang sama Nia’’ sambil mengecup pipi Bunda.
‘’Ya sayang, iya Amin… terimakasih ya sayang’’ sambil mengelus rambutku dan mengecup dahiku
Setelah aku mengucapkan ulang tahun kepada Bunda, aku langsung mandi dan mempersiapkan seragam untuk sekolah hari ini. Seperti biasa sebelum aku sekolah aku makan bersama dengan Ayah dan Bunda. Disana kami bercanda tawa bersama. Dengan kakak-kakakku tercinta. Berkumpul dengan mereka adalah hal yang ingin selamanya terjadi. Mereka adalah satu-satunya harta yang berharga untuk aku. Akhirnya aku berangkat sekolah dengan Ayah tak lupa aku berpamitan dengan Bunda dan mengecup tangannya.
***
Tibanya di mobil aku meminta sesuatu pada Ayah 

‘’Yah, nanti pulang sekolah anterin Nia beli Bunga untuk Bunda ya Ayah’’. Sambil tersenyum dengan Ayah
‘’Iya, nanti Ayah anterin ya’’
‘’Terimakasih ya Ayah’’
Aku pun tiba disekolah, hari ini aku senang dan semangat sekali. Begitupula aku mengikuti pelajaran pagi ini. Aku hanya teringat Bunda dirumah, dan akan memberikan kejutan untuk Bunda. ‘’Sepertinya Bunda sudah tau kalau aku akan membelikan bunga’’ Fikirku. Tibanya aku pulang sekolah. Aku dijemput oleh Ayah dan aku pergi ke Toko Bunga. Aku tidak tau bunga apa yang aku belikan untuk Bunda sekarang, karena bunganya rata-rata sudah aku belikan untuk Bunda. Aku mencoba untuk menggabungkan beberapa Bunga untuk Bunda, aku rangkai sendiri bunganya, dan berharap bunda suka dengan bunga yang aku beri. Aku melihat Ayah meneteskan air matanya ketika melihat aku membelikan Bunga untuk Bunda
‘’Ayah, kenapa?’’ sambil mengerutkan alisku
‘’Tidak apa-apa Nak’’sambil mengelus kepalaku
‘’Benar Ayah?’’ aku masih ragu dengan jawaban Ayah.
‘’Iya sayang, lanjutkan merangkai bunganya”
Aku merasa seperti aneh hari ini. Entah mengapa. Tiba-tiba Ayah menerima sms entah sms dari siapa. Tapi sepertinya sms itu membuat wajah ayah yang tadinya sedih bertambah sedih dan sangat takut. Aku masih melanjutkan merangkai bunganya, kurang sedikit lagi aku menyelesaikannya. Akhirnya selesai aku merangkai bunganya. Akupun kembali ke mobil dengan Ayah. Tapi aneh ini tak seperti biasanya. Ini bukan jalan pulang kerumah. Akupun tanya pada Ayah
‘’Yah, ini bukan jalan pulang’’ dengan memegang tangan Ayah yang menyetir mobil.
‘’Iya Nak, memang bukan’’ dengan tenangnya Ayah mengucapkannya


0 komentar: