Suasana sejuk
dan sinar mentari yang membakar kulitku dan secangkir teh hangat menemaniku. Ini
adalah hari libur, libur sekolah kali ini adalah libur yang lama dan
membosankan. Pagi ini aku lari pagi dengan menggunakan sepatuku dan tak lupa
aku membawa sebotol air putih.
‘’Mau kemana
Nak?’’ tanya Bunda
‘’Ini Bunda,
mau lari pagi biasa.’’ Jawabku
‘’Ya sudah,
hati-hati ya’’
‘’Oke Bunda’’
Saat diperjalanan
aku banyak menemukan kejadian. Entah kenapa difikiranku ingin sekali menuliskan
segala kejadian yang aku alami dan yang aku lihat. Aku duduk termenung di
taman. Mencoba merenungkan apa yang aku dan fikiran ini inginkan. Ah entahlah, aku fikir ini hanya perasaan
saja. Ucapku dalam hati. Sesampainya perjalanan menuju rumah, rasa ingin
tahuku berlanjut, sebenarnya apa yang
diinginkan oleh hatiku.
Akupun masih cuek, masih tak mau tau dengan apa
yang diinginkan oleh fikiran dan hatiku. Sesampainya dirumah aku mencoba
bertanya pada Bunda.
‘’Bun, tadi
diperjalanan pas aku lari, aku menemukan kejadian, dan kejadian itu ingin
sekali aku ungkapkan, aku ngak tau Bun, maksutnya apa?’’ dengan menggaruk
kepalaku dan dengan wajah kebingungan.
‘’Loh kenapa
memangnya?, kamu pingin jadi reporter televisi ya?’’ Jawab bunda sambil
tertawa.
‘’Ih… Bunda,
sepertinya bukan itu kok, aku kan juga masih SMP’’ dengan wajah bingung
‘’Ngapain
sih Nak, difikirin itu paling cuma halusinasi aja kan?’’ terang Bunda. Aku hanya
menganguk dan langsung masuk kekamar.
***
Siang ini
aku membuka laptop. Bukan untuk main games (permainan).
Tapi, tiba-tiba aku ingin membuka situs sejenis cerpen gitu. Padahal aku itu
ngak suka sekali yang namanya membaca. Bisa dibilang paling anti. Tapi semenjak
aku masuk SMP sampai sekarang kelas 8 SMP, pinginnya membaca terus. Akupun
membuka cerpen sastra, disana cerpennya bagus-bagus dan aku mulai suka. Tak
hanya sekedar suka, bahkan pingin menulis cerpen. Akupun mencoba menulis cerpen
yang bertemakan tentang persahabatan. Tulisan itu masih aku tulis dikertas.
‘’Surya…
kertasnya berserakan, buang dong ditempatnya’’ Teriak Bunda
‘’Oh… Iya
Bunda, maaf ya Bunda, lagi sibuk nih’’ sambil meringis pada Bunda
‘’Sibuk
ngapain sih?. Loh kamu lagi nulis apa?’’ dengan raut muka Bunda yang penasaran.
‘’Ini lagi
nulis cerpen, kenapa Bunda?, kaget?’’ dengan tersenyum. ‘’Tidak usah kaget
Bunda, kan udah biasa kan lihat aku Nulis?
‘’Iya sudah
biasa, tapi ini nulisnya mengarang loh Nak,’’ dengan wajah penuh keraguan
‘’Iya Bunda,
makanya dari tadi aku buang kertasnya habisnya salah terus namanya juga baru
belajar.’’
‘’Ya sudah
dilanjutkan aja ya belajarnya, semoga sukses.’’ Ucap Bunda.
Aku mencoba
berfikir dan berfikir. Semoga ada inspirasi dan khayalan yang membuat cerpenku
terlihat menarik. Tiba-tiba inspirasiku
datang. Aku akan membuat cerpen dengan tema persahabatan yang berperasaan
mengharukan, jadi pembaca dapat terharu setelah membaca cerpenku. Ucapku dalam
hati.
Akupun membuat
cerpen itu. Tak kusangka sudah pukul 5 sore. Akupun bergegas mandi dan nantinya
aku akan menuliskan cerpenku lagi.
***
Dan setelah
aku mandi, aku kembali menulis lagi. Kini aku menulis judulnya. Sepertinya judul
yang cocok adalah ‘’My Eyes’’. Alhamdullilah, ini adalah cerpen pertamaku. Walaupun
kata-katanya masih sederhana. Akupun membagikan cerpenku ini diblog. Berharap orang
lain dapat menyukai cerpan yang aku buat. Saat itupun aku memcoba meminta
pendapat orang banyak tentang cerpenku. Dari guru, teman-teman, dan juga Bunda
tentunya. Saat selesai aku membuat cerpen. Aku membuka jejaring sosialku, dan
kebetulan guruku Online. Kebetulan guruku juga pembuat cerpen yaitu pak Arif
Friyadi guru bahasa Arabku.
Aku : Pak,
coba lihat cerpenku. Bapak mau tidak?. Judulnya My Eyes
Pak Arif :
Oh iya, boleh, coba saya lihat.
Akupun
memperlihatkan cerpenku kepada pak Arif. Dan pak Arif cukup suka dengan
cerpenku, dan dia member saran dengan penulisanku yang salah ketik. Sebenarnya tak
banyak orang yang tahu bahwa dulunya aku tidak suka membaca. Membaca itu buat
ngantuk. Tapi sekarang mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus suka dengan
membaca. Apalagi aku sekarang suka nulis. Bundaku sampai berkata ‘’Kamu suka
menulis dan bisa menulis, kok kamu ngak suka membaca ya?, malah aneh.’’. Ya itu
singkat kata dari bundaku setelah aku memperlihatkan cerpenku padanya.
***
Paginya aku
mulai berangkat sekolah. Tak segan aku membawa naskah cerpenku. Kebetulan pagi
ini ada pelajaran bahasa Indonesia. Akupun memberi naskah cerpenku pada guruku.
Aku memberi naskah tersebut agar aku bisa tahu apakah penulisanku ini benar
atau salah?. Sebut saja namanya pak Dwi. Dan pak Dwi member saran yang bagus
untukku, semuanya disebutin mulai dari kekurangan dan kelebihan. Maklum baru
pertama kali ada niat untuk menulis. Akupun kembali ketempat dudukku. Lalu temanku
menghampiriku namanya Reza.
‘’Surya ada
apa?’’dengan wajah yang panik. Mungkin disangkanya aku bermasalah
‘’Itu aku ngasih
cerpen ke pak Dwi, kenapa?’’ dengan tersenyum
‘’Cerpen?,
aku boleh lihat?’’ sambil menyodorkan tangannya.
‘’Iya, besok
aku kasih’’ dengan tersenyum.
Sesudahnya aku
mengikuti pelajaran disekolah, akupun pulang kerumah. aku banyak sekali membuat cerpen. Dan sudah 10
cerpen yang aku buat. Mulai dari My Eyes, Curhatan Si Bungsu, Ketukan Itu,
Symphony Hidupku (1-4), Sweet 17, Haters Matematik, Fatamorgana, dan lain-lain.
Target 10 cerpen itu terselesaikan. Akupun mencoba mempromosikan blog aku dan
cerpenku. Berharap orang lain juga dapat mengkritik blog aku. Ada kritikan
secara halus dan lumayan kasar tapi berbobot. Dari mulai mereka mengkritik
cerpenku seperti sampah, dan tak ingin membuang-buang waktu membacanya. Aku sempat
kaget dengan kritikan tersebut dan coba berbicara pada Bunda
‘’Bun… aku
dikritik seperti ini, bagaimana menurut Bunda?’’ dengan memperlihatkan
kritikannya pada Bunda.
“Ya tidak
apa-apa kan Nak, kritikan berbobot itu seperti ini, dia memberikan penjelasan
mana cerpenmu yang penulisannya salah. Dan dia mengatakan cerpenmu seperti
sampah bukan berarti kamu tidak semangat lagi kan membuat cerpen?. Justru orang
seperti inilah yang patut kamu ucapkan terimakasih. Siapa tahu dia akan
membuatmu suskses kedepannya. Iya kan?’’
‘’Iya Bunda,
terimakasih atas pemberitahuan Bunda.’’
‘’Dan sekali
lagi, Kamu sudah berani terjun ke dunia seni sastra dan seni music, kamu harus
dapat menerima segala pendapat ataupun kritikan, seni itu dunianya kritikan
sayang. Percaya, mereka yang memberimu kritikan insyaAllah mereka yang
membangkitkan semangatmu untuk lebih dan lebih’’ dengan tersenyum dan mengelus
kepalaku.
‘’Terimakasih Bunda’’ dengan tersenyum.Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar