Ketika Jemariku Menari Part 1

Senin, 06 Oktober 2014



Suasana sejuk dan sinar mentari yang membakar kulitku  dan secangkir teh hangat menemaniku. Ini adalah hari libur, libur sekolah kali ini adalah libur yang lama dan membosankan. Pagi ini aku lari pagi dengan menggunakan sepatuku dan tak lupa aku membawa sebotol air putih.
‘’Mau kemana Nak?’’ tanya Bunda
‘’Ini Bunda, mau lari pagi biasa.’’ Jawabku
‘’Ya sudah, hati-hati ya’’
‘’Oke Bunda’’
Saat diperjalanan aku banyak menemukan kejadian. Entah kenapa difikiranku ingin sekali menuliskan segala kejadian yang aku alami dan yang aku lihat. Aku duduk termenung di taman. Mencoba merenungkan apa yang aku dan fikiran ini inginkan. Ah entahlah, aku fikir ini hanya perasaan saja. Ucapku dalam hati. Sesampainya perjalanan menuju rumah, rasa ingin tahuku berlanjut, sebenarnya apa yang diinginkan oleh hatiku.
Akupun masih cuek, masih tak mau tau dengan apa yang diinginkan oleh fikiran dan hatiku. Sesampainya dirumah aku mencoba bertanya pada Bunda.
‘’Bun, tadi diperjalanan pas aku lari, aku menemukan kejadian, dan kejadian itu ingin sekali aku ungkapkan, aku ngak tau Bun, maksutnya apa?’’ dengan menggaruk kepalaku dan dengan wajah kebingungan.
‘’Loh kenapa memangnya?, kamu pingin jadi reporter televisi ya?’’ Jawab bunda sambil tertawa.
‘’Ih… Bunda, sepertinya bukan itu kok, aku kan juga masih SMP’’ dengan wajah bingung
‘’Ngapain sih Nak, difikirin itu paling cuma halusinasi aja kan?’’ terang Bunda. Aku hanya menganguk dan langsung masuk kekamar.

***
Siang ini aku membuka laptop. Bukan untuk main games (permainan). Tapi, tiba-tiba aku ingin membuka situs sejenis cerpen gitu. Padahal aku itu ngak suka sekali yang namanya membaca. Bisa dibilang paling anti. Tapi semenjak aku masuk SMP sampai sekarang kelas 8 SMP, pinginnya membaca terus. Akupun membuka cerpen sastra, disana cerpennya bagus-bagus dan aku mulai suka. Tak hanya sekedar suka, bahkan pingin menulis cerpen. Akupun mencoba menulis cerpen yang bertemakan tentang persahabatan. Tulisan itu masih aku tulis dikertas.
‘’Surya… kertasnya berserakan, buang dong ditempatnya’’ Teriak Bunda
‘’Oh… Iya Bunda, maaf ya Bunda, lagi sibuk nih’’ sambil meringis pada Bunda
‘’Sibuk ngapain sih?. Loh kamu lagi nulis apa?’’ dengan raut muka Bunda yang penasaran.
‘’Ini lagi nulis cerpen, kenapa Bunda?, kaget?’’ dengan tersenyum. ‘’Tidak usah kaget Bunda, kan udah biasa kan lihat aku Nulis?
‘’Iya sudah biasa, tapi ini nulisnya mengarang loh Nak,’’ dengan wajah penuh keraguan
‘’Iya Bunda, makanya dari tadi aku buang kertasnya habisnya salah terus namanya juga baru belajar.’’
‘’Ya sudah dilanjutkan aja ya belajarnya, semoga sukses.’’ Ucap Bunda.
Aku mencoba berfikir dan berfikir. Semoga ada inspirasi dan khayalan yang membuat cerpenku terlihat menarik. Tiba-tiba inspirasiku datang. Aku akan membuat cerpen dengan tema persahabatan yang berperasaan mengharukan, jadi pembaca dapat terharu setelah membaca cerpenku. Ucapku dalam hati.
Akupun membuat cerpen itu. Tak kusangka sudah pukul 5 sore. Akupun bergegas mandi dan nantinya aku akan menuliskan cerpenku lagi.

***

Dan setelah aku mandi, aku kembali menulis lagi. Kini aku menulis judulnya. Sepertinya judul yang cocok adalah ‘’My Eyes’’. Alhamdullilah, ini adalah cerpen pertamaku. Walaupun kata-katanya masih sederhana. Akupun membagikan cerpenku ini diblog. Berharap orang lain dapat menyukai cerpan yang aku buat. Saat itupun aku memcoba meminta pendapat orang banyak tentang cerpenku. Dari guru, teman-teman, dan juga Bunda tentunya. Saat selesai aku membuat cerpen. Aku membuka jejaring sosialku, dan kebetulan guruku Online. Kebetulan guruku juga pembuat cerpen yaitu pak Arif Friyadi guru bahasa Arabku.
Aku : Pak, coba lihat cerpenku. Bapak mau tidak?. Judulnya My Eyes
Pak Arif : Oh iya, boleh, coba saya lihat.
Akupun memperlihatkan cerpenku kepada pak Arif. Dan pak Arif cukup suka dengan cerpenku, dan dia member saran dengan penulisanku yang salah ketik. Sebenarnya tak banyak orang yang tahu bahwa dulunya aku tidak suka membaca. Membaca itu buat ngantuk. Tapi sekarang mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus suka dengan membaca. Apalagi aku sekarang suka nulis. Bundaku sampai berkata ‘’Kamu suka menulis dan bisa menulis, kok kamu ngak suka membaca ya?, malah aneh.’’. Ya itu singkat kata dari bundaku setelah aku memperlihatkan cerpenku padanya.

***
Paginya aku mulai berangkat sekolah. Tak segan aku membawa naskah cerpenku. Kebetulan pagi ini ada pelajaran bahasa Indonesia. Akupun memberi naskah cerpenku pada guruku. Aku memberi naskah tersebut agar aku bisa tahu apakah penulisanku ini benar atau salah?. Sebut saja namanya pak Dwi. Dan pak Dwi member saran yang bagus untukku, semuanya disebutin mulai dari kekurangan dan kelebihan. Maklum baru pertama kali ada niat untuk menulis. Akupun kembali ketempat dudukku. Lalu temanku menghampiriku namanya Reza.
‘’Surya ada apa?’’dengan wajah yang panik. Mungkin disangkanya aku bermasalah
‘’Itu aku ngasih cerpen ke pak Dwi, kenapa?’’ dengan tersenyum
‘’Cerpen?, aku boleh lihat?’’ sambil menyodorkan tangannya.
‘’Iya, besok aku kasih’’  dengan tersenyum.
Sesudahnya aku mengikuti pelajaran disekolah, akupun pulang kerumah.  aku banyak sekali membuat cerpen. Dan sudah 10 cerpen yang aku buat. Mulai dari My Eyes, Curhatan Si Bungsu, Ketukan Itu, Symphony Hidupku (1-4), Sweet 17, Haters Matematik, Fatamorgana, dan lain-lain. Target 10 cerpen itu terselesaikan. Akupun mencoba mempromosikan blog aku dan cerpenku. Berharap orang lain juga dapat mengkritik blog aku. Ada kritikan secara halus dan lumayan kasar tapi berbobot. Dari mulai mereka mengkritik cerpenku seperti sampah, dan tak ingin membuang-buang waktu membacanya. Aku sempat kaget dengan kritikan tersebut dan coba berbicara pada Bunda
‘’Bun… aku dikritik seperti ini, bagaimana menurut Bunda?’’ dengan memperlihatkan kritikannya pada Bunda.
“Ya tidak apa-apa kan Nak, kritikan berbobot itu seperti ini, dia memberikan penjelasan mana cerpenmu yang penulisannya salah. Dan dia mengatakan cerpenmu seperti sampah bukan berarti kamu tidak semangat lagi kan membuat cerpen?. Justru orang seperti inilah yang patut kamu ucapkan terimakasih. Siapa tahu dia akan membuatmu suskses kedepannya. Iya kan?’’
‘’Iya Bunda, terimakasih atas pemberitahuan Bunda.’’
‘’Dan sekali lagi, Kamu sudah berani terjun ke dunia seni sastra dan seni music, kamu harus dapat menerima segala pendapat ataupun kritikan, seni itu dunianya kritikan sayang. Percaya, mereka yang memberimu kritikan insyaAllah mereka yang membangkitkan semangatmu untuk lebih dan lebih’’ dengan tersenyum dan mengelus kepalaku.
‘’Terimakasih Bunda’’ dengan tersenyum.


Bersambung...

0 komentar: