Sweet 17

Rabu, 27 Agustus 2014

Sinar mentari yang menyentuh kulitku, dan cerahnya pagi ini secerah hatiku. Hari ini dan pagi ini aku tepat berusia 17 tahun. Ini adalah umur yang aku nanti-nanti. Pagi ini aku berangkat sekolah tak lupa aku sarapan terlebih dahulu, tiba-tiba ayah memanggilku.
“Najwa, sini Nak, Ayah mau bicara”
“Iya Ayah, sebentar Najwa lagi didapur” saut najwa.  “Ada apa Ayah?” Ucap Najwa.
“Selamat ulang tahun ya Nak, semoga tambah cerdas disekolah, panjang umur dan tambah cantik, Amin” Ayah berucap dengan mengelus kepalaku.
“Iya Ayah, Amin” akupun tersenyum pada Ayah.
“Najwa, selamat ulang tahun  ya” Saut ibu.
“Iya Ibu, terimakasih ya”.
“Do’a ibu sama seperti do’a Ayah”
“Iya bu”
Akupun sarapan di meja makan, sambil bersenda gurau pada Ayah dan Ibu, ternyata kado special 17 tahunku sepertinya tidak ada. Tapi tak apa, do’a Ayah dan Ibu lebih berarti dari sebuah kado. Sudah pukul 06.30. Akupun bergegas mengenakan sepatu di teras rumah.
 “Naj, kamu bareng Ayah atau naik motor sendiri kesekolah?” Teriak Ayah dari dalam rumah.
Aku menghampiri ayah yang berada didalam rumah
“Najwa naik motor saja ya Ayah”
“Ya sudah, kamu hati-hati ya”
“Siap Ayah” Aku pun mencium tangan Ayah.
“Ibu najwa berangkat, Assalamualaikum” sambil mencium tangan ibu.
“Hati-hati ya Naj, Waalaikumsalam”


Sesampainya disekolah, Hmm… Rasanya beda sekali. Sekarang aku sudah 17 tahun, senang rasanya. “Semoga umurku yang ke 17 tahun ini, aku bisa lebih dewasa dalam menghadapi apapun” Dalam hati aku berucap. Akupun masuk kekelas. Aku duduk sebangku dengan Lea. Lea itu bisa dibilang sahabatku yang dekat sekali sama aku. Dia orangnya baik, lugu, manis, dan pintar.
“Najwa sobatku, selamat ulang tahun ya… sweet 17 nih…” dengan tersenyum dan mencubit pipiku yang seperti bakpao ini.
“Iya… Makasih ucapannya Lea” dengan tersenyum manis.
“Dikasih kado apa sama Ayahmu?”
“Ngak dikasih apa-apa kok, Cuma do’a aja”
“Kok gitu?, kan sweet 17. Ngak ada yang special ya?” dengan wajah yang mengintrogasiku.
“Aduh, aku ngak tau ya Lea, Aku sih berharapnya juga dikasih hadiah, tapi do’a aja udah cukup kok”. Dengan tersenyum.
“Iya deh, nanti pas istirahat aku traktir oke?” Tawar Lea.
“Beneran Le, Iya aku mau kok, baik banget ya kamu” dengan mencubit hidung Lea
“Aduh, sakit tau’. Ya dong sama sahabatnya harus kaya’ gini”




***

Istirahatpun dimulai. Aku dan Lea pergi kekantin bersama. Senang rasanya aku ditraktir sama Lea. Dia memang sahabat yang aneh, kadang cuek, kadang labil. Tapi bagaimanapun dia tetap sahabatku. Kring…Kring… Kring. Bel masuk sekolah berbunyi. Aku dan Lea cepat – cepat kembali kekelas. Pelajaran terakhir ini adalah IPA Biologi, Aku suka dengan pelajaran ini, menurutku pelajaran ini sangat unik. Guru sudah tiba dikelas, kebetulan guruku ada acara diluar sekolah hingga akhirnya murid-murid diberi tugas mengerjakan soal.
“Najwa, soalmu tak kerjain ya? Mau ya?” Ucap Lea merayuku.
“Ngak usah Lea, kamu itu kenapa sih? Hari ini beda banget. Karena aku sweet 17. Aduh kenapa sweet 17 aja sih?. Kenapa ngak tiap hari?” dengan tertawa.
“Loh?, kamu mau tiap hari ya?, tidak bisa dong, ini kan limited edision, hehe” dengan tertawa padaku.
“Ngak juga kok, limitied edision ya?. Baju kali’ limitied edision. Udah ngak usah, kita kan dikasih tugas individu bukan kelompok Lea”
“Yakin?, udah deh ngak usah malu-malu” sambil mencolek pipiku dengan tangganya dan sambil mengedip-ngedipkan matanya, seperti orang yang genit padaku.
“Aduh, yakin kok”

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan Lea begegas membereskan buku-buku yang ada dimeja.
“Naj, naik apa kamu?, mau bareng ngak?”
“Aku kebetulan naik motor Le, maaf ya ngak”
“Oke deh, ngak apa-apa. Kamu hati-hati ya sweet 17 lho”
“Cie, perhatian banget sih?. Iya-iya. Hati-hati itu ngak cuma sweet 17 kok”
“Baiklah, baik”

***

Tibanya aku dirumah, tidak seperti biasa Ayah pulang pagi. Sebelum aku masuk rumah seperti biasa aku menyopot sepatu dan mengucapkan salam “Asslamualaikum, Ibu”
“Waalaikumsalam”
“Ibu, mobil Ayah ada didepan, Ayah sudah pulang?”
“Sudah Naj, itu Ayah lagi nonton tv”
“Oh iya ibu, tumben. Ada apa?” Aku sambil mengaruk-garuk kepalaku seperti orang kebingungan
“Nanti ibu jelasin. Udah sana ganti baju dulu” sambil mengelus rambutku.

Aku semakin penasaran. Seusai aku ganti baju aku langsung bergegas  menghampiri Ayah.
“Ayah, Najwa udah pulang”
“Iya Naj, ini ada sesuatu buat kamu”
“Ih… Apa ini Ayah?” dengan senang campur rasa takut ada dibenakku.
Aku membuka bungkus kado itu. Ternyata isinya adalah buku novel yang aku ingini yaitu “Tenggelamnya kapal Van Der Wick”. Rasanya seneng banget aku pun memeluk Ayah dengan sangat kencang.
“Ayah terimakasih kadonya, aku suka banget. Ayah kok tau aku pingin ini?”
“Ayah tau dari Ibu, kalau ibu ngak ngasih tau ya Ayah ngak tau dong Naj”
“Wah, ibu diam-diam bilang ke Ayah”
“Ngak apa-apa dong Naj, kamu kan pingin banget novel itu?, terus kamu juga suka nulis-nulis kan?, dan kamu juga suka baca?, ya sudah Ibu suruh Ayah buat beliin kado itu” Jawab ibu dengan tersenyum padaku
“Makasih ya Ibu dan Ayah”

“Iya, sama-sama” serempak ibu dan ayah mengucap.



TAMAT 



karya: Catur Surya Waskitowati

0 komentar: