FATAMORGANA (The Last cerpen 2014 by me)

Kamis, 28 Agustus 2014

FATAMORGANA

OLEH: CATUR SURYA WASKITOWATI
           





“Hay Manis, Tia yang manis…”. Itu teguran sahabatku Tika dengan berbinar-binar diwajahnya. Aku sudah bersahabat dengannya semenjak aku kelas 1 SD . Aku sangat menyayangi Tika sebagai sahabatku. Dia itu seperti anak TK. Dia polos sekali dan dia sangat baik. Sekarang aku sudah kelas 9 SMP, sudah mau lulus dari sekolah. Aku dan Tika bersaing ketat saat SMP. Pokoknya aku dan dia harus mendapat peringkat 3 besar. Ya, aku dan dia selalu medapat 3 besar. Aku mendapat Ranking 1 dan dia mendapat Ranking 2. Dan jika salah satu diantara kami tidak ada yang mendapat 3 besar, pasti salah satu diantara kami dikerjain habis-habisan, pokoknya gimana caranya supaya diantara kami bisa mendapat juara. Tika adalah anak pejabat . Dia orang yang sangat kaya. Ayahnya Tika kenal dengan ayahku. Ayahku mempunyai salah satu perusahaan. Kami kebetulan sama-sama anak tunggal. Kami tak punya
saudara, tapi berkat kehadiran Tika yang kini menjadi sahabatku dia melengkapi aku. Kadang-kadang dia selalu menginap dirumahku. Kami bisa dibilang adalah anak dari orang yang berpendapatan tinggi. Kami berdua selalu dituruti apapun oleh Ayah kita masing-masing. Tapi meskipun kita selalu dituruti kami tidak seenaknya, kami juga selalu berprestasi disekolah. Itu bukti bahwa kita bukan anak yang manja.

***

Mentari telah memunculkan sinarnya. Hari ini adalah hari libur, senang sekali. Aku terduduk di meja belajarku. Sambil  membuka laptopku. Aku membuka artikel-artikel. Aku suka sekali membuka artikel tentang sahabat sejati. Mungkin aku dengan Tika, sudah menjadi sahabat tapi belum sejati. Aku membaca Artikel tersebut bacaannya sungguh menarik. Dan selain aku suka membaca artikel aku juga sering membaca cerpen tentang persahabatan. Entah kenapa aku sangat bangga mempunyai sahabat seperti Tika Alumsari. Ya, itu nama panjangnya. Nama yang indah untuk wajahnya yang cantik. Sambil aku membaca artikel tiba-tiba ada yang mengedor-gedor pintuku.
‘’Tia, ini aku Tika bukakan pintunya ya?”dengan mencerit didepan pintu
“Oh iya Tika, sebentar ya”dengan berlarian menuju pintu
“Tia aku kangen banget sama kamu” sambil memeluk Tia.
“Iya Tik, aku juga kok” dengan membalas pelukan Tika.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Dan aku membuka smsnya ternyata sms itu dari ibuku yang berisi
Tia, Ayah sekarang dirumah sakit. Kamu kerumah sakit mawar sekarang.
Akupun kaget, lalu aku menunjukkan smsku kepada Tika. Aku menangis di pelukan Tika. Lalu aku dan Tika pergi kerumah sakit. Tibanya aku dirumah sakit. Aku bertanya pada ibuku
‘’Ada apa dengan Ayah? ‘’ dengan wajahku sangat sedih dan mataku yang membengkak.
‘’Ayahmu sakit jantung kronis. Dan sekarang Ayah harus dirawat dirumahsakit’’
Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini. Ayahku sekarang sakit. Dan kabarnya perusahaan Ayahku juga akan bangkrut. Bagaimana dengan pengobatan Ayahku nanti?. Oh Tuhan kenapa seperti ini?. Aku bercerita pada Tika tentang semua hal. Yaitu ayahku yang sedang sakit jantung kronis dan perusahaan Ayah yang akan bangkrut Tika hanya berkata ‘’Sabar Tia’’. Aku memang sering dan selalu curhat padanya. Apapun itu. Akupun disuruh ibu pulang kerumah dan ibu menjaga Ayah dirumah sakit. Aku sebenarnya tidak mau, ibu mempunyai alasan kenapa aku disuruh pulang. Ya karena keesokan harinya aku sekolah. Tika mengantarkanku pulang. Tika juga menawarkan dirinya untuk tinggal dirumahku
 ‘’Aku tinggal dirumahmu ya Tia, kamu kan sendirian’’. 
‘’Aku ngak apa-apa kok, aku juga udah biasa sendirian. Kamu ngak usah khawatir Tik’’
‘’Iya udah kalau begitu’’

***

Aku masuk kamar, dan mengunci kamarku. Aku sangat rindu belaian ayah hari ini. Akupun membuka laptop. Seperti biasa untuk menghibur rasa sedihku. Aku membaca artikel tentang sahabat sejati. Kali ini beda sekai topiknya. Artikel yang mengatakan sahabatku kini tinggal dusta. Aku membaca artikelnya. Artikel itu sungguh tak aku duga sebelumnya. Dan disuatu komentar aku berkomentar : tidak ada sahabat yang memberi  dusta. Menurutku sahabat adalah keluarga kedua yang sangat aku percaya. Aku banyak berfikir tentang artikel itu. Kenapa artikel itu harus ada?. Entah kenapa aku jadi benci melihat artikel persahabatan itu. Yang menunjukkan bahwa sahabat itu dusta dan khianat. Akupun langsung tertidur. Berharap aku memimpikan ayah.
Pagi ini tak seperti biasanya. Aku sangat merasa sedih dan terpuruk. Aku tau sekarang perusahaan ayah bangkrut. Yang aku fikirkan bukan takut kehilangan perusahaan ayah . tapi aku takut kehilangan ayah. Ayah berharga bagiku, lebih dari apapun. Sesampainya aku disekolah. Ada yang berbeda dengan Tika. Dan tak seperti biasanya. Dia sekarang menjauh dari aku. Padahal tadi malam dia sangat duka melihatku jatuh seperti ini. Aku hanya berfikir paling Tika sedang badmood pagi ini. Akupun mencoba untuk diam dengan Tika. Seperti biasa jika dia sedang galau aku mencoba untuk diam membiarkannya. Bukannya aku tak ingin menghiburnya. Tapi kelihataanya dia tak butuh hiburanku saat ini. Dia tau akupun sedang sedih

***

Bel istirahat sudah berbunyi. Aku mengajak Tika makan dikantin
‘’Tik, ayo makan kekantin!’’
‘’Ngak ah Tia, aku lagi malas. Kamu aja ya’’
‘’ya sudah’’
Dikantin aku mencoba untuk berbicara pada teman sebangkunya Tika namanya Alma.
‘’Al, Tika kenapa yak ok gitu kamu tau ngak dia kenapa ‘’
‘’Aku ngak tau deh, kayaknya’’
‘’Kok kayaknya… kamu pasti tau kan…’’
‘’Aku mau tanya dulu. Katanya perusahaan Ayahmu bangkrut….terus kamu sekarang tinggal dimana….’’
‘’Aku masih tinggal dirumahku, tapi minggu besok. Aku dititipkan di nenekku, Tika cerita soal itu ya….’’
‘’Iya. Tika badmood gara-gara itu. Sekarang kan kamu kalau diajak shopping ngak bisa karena yaa begitulah, katanya si Tika sih’’
‘’Masa iya dia bilang gitu sama kamu… ‘’
‘’Iya, masa aku bohong sama kamu sih Tia. Ngak ada untungnya buat aku. Ya kalian kan udah sahabatan semenjak SD. Ya kalian juga sering jalan-jalan bareng, shopping bareng. Pokoknya kalian keturutan deh. Dan katanya ayahmu sakit ya?. Semoga ayahmu cepat sembuh ya Tia’’
‘’Iya makasih’’ dengan sedih. Aku kecewa sangat kecewa pada Tika. Dia tak seperti menerimaku sebagai sahabat lagi Cuma karena aku tak sekaya dulu, dan sederajat dia. Kenapa dia begitu tega? Dia tak seperti Tika yang aku kenal sebelumnya. Mana Tika Alumsari yang dulunya polos, baik, dan ngak pernah membicarakan aku dibelakang. Seperti  tadi. Pantas saja dia menjauh dari aku. Karena sekarang aku miskin. Pulang sekolah kali ini tak biasa aku dengan Tika saling cuek seperti tidak kenal satu sama lain. Tika… kamu berubah sekarang. Kamu bukan Tika.

***

Sesampainya aku dirumah aku merasa sedih dan sangat sedih. Aku membuka laptopku lagi aku melihat artikel yang berjudul ‘’Sahabat sejati itu fatamorgana’’. Aku tak dapat mencerna artikel itu. Apa yang dimaksud artikel itu?. Apakah sama halnya dengan keaadanku sekarang dengan Tika. Lalu handphoneku bedering ternyata ada SMS dari Tika.

Maafkan aku Tia, aku bukan sahabat sejatimu. Sahabat yang baik sepertimu. Jujur selama kita masuk SMP. Aku banyak sekali iri padamu, kamu pintar, cantik, dan mempunyai bakat tak sepertiku. Sekarang aku bukan Tika yang polos. Sekarang mungkin aku tau aku lebih kurang darimu. Maafkan aku Tia. Aku tak bisa menjadi sahabatmu lagi.


Lalu aku membalas pesannya:
Tika, aku tau.. itu bukan alasan kamu, kamu tau sekarang aku tak seperti dulu. Sekarang aku berbeda. Aku tak bisa jalan-jalan denganmu. Sekarang aku sederhana bahkan jauh dari kehidupanmu. Entah, apa yang kamu fikirkan Tika hingga masalah sekecil itu kamu rela melepaskan persahabatan kita yang telah bertahun-tahun kita lewati. Bukan waktu yang mudah untuk kita lewati Tika. Aku juga bukan sahabat yang baik untukmu.

Setelah itu Tika sudah tak membalas sms dari aku. Ternyata dia melepaskan persahabatan kita yang sudah 9 tahun kita bangun hanya 2 permasalahan. Dia iri padaku dan aku yang saat ini miskin tak seperti dulu. Harusnya aku yang iri padanya. Dia saat ini lebih dari aku. Tapi rasa iriku tak melebihi rasa sayangku pada persahabatan ini. Hingga saat perpisahan di SMP kita tidak bertemu apalagi bertegur sapa. Mungkin akhir sekolah juga akhir pesahabatan kita. Jujur aku kecewa dengan sikap Tika. Jika waktu dapat berputar. Aku ingin menjadi Tia dan aku ingin dia menjadi Tika yang polos dan lugu seperti kita SD dulu. Aku membaca artikel bukankah sahabat itu tak memandang harta dan tahta maupun rasa iri ataupun dengki. Dia menyimpan rasa keirian padaku selama 3 tahun tepatnya saat SMP. Bahkan sekarang aku tau. Tentang artikel yang menyebutkan sahabat sejati itu fatamorgana. Memang benar, aku percaya. Sebaik apapun sahabat kita, pasti ada rasa sedikit ketidak sukaan pada kita. Namanya juga manusia. Mereka punya rasa dengki bahkan iri. Itu sudah wajar dalam kehidupan. Lebih kecewanya lagi selama 3 tahun itu segala kebaikannya ternyata menyimpan suatu kedengkian padaku. Tak apa! Aku sudah puas dengan kejujurannya. Yang terpenting aku tidak pernah membencinya. Dia tetap menjadi sahabatku tapi bukan sejati. Karena sahabat sejati hanyalah fatamorgana dalam kehidupan, yang hanya sekedar bayangan semu yang menjelma di sahara, jika kita dekat bayangan itu akan hilang dan bertambah pudar.




TAMAT.

0 komentar: