Teet... Teet... Teet. Bunyi bel masuk sekolah SMP pun berbunyi. Aku dan teman-temanku berlarian dari perpustakaan untuk meminjam novel. Buku itu jatuh, mungkin karena aku terlalu terburu-buru. Aku pun membereskan bukuku dan kembali kekelas. Ani sebut saja dia adalah teman sebangkuku, dia itu pendiam, sering curhat masalah apapun sama aku, dan sebagainya."Alya, jam ke 1 pelajaran matematika ya?"
"Iya, kenapa Ni?"
"Aduh, rasanya takut banget... Liat ni bulu kudukku pada berdiri semua" (sambil menunjukkan tangannya yang merinding)
"Lebay ah... Kenapa emangnya"
"Emang kamu ngak takut apa?"
"Takut?, sama siapa?, Matematika?"
"Iya"
"Takut sih sebenarnya, Dulu SD matematikaku jelek banget" (dengan wajah murung)
"Haha... Ngaku juga katanya ngak takut?"
"Loh aku kan ngak bilang ngak takut, Lah kamunya takut sampai lebay gitu biasa aja keles"
"Emm... Yakin? kayaknya lebay kamu deh, pasti kalau disuruh maju kamu udah mules duluan kan?"
"Iya... 100 buat kamu" (sambil tertawa)
Guru matematika sudah masuk kedalam kelas, dengan membawa buku paket dan LKS matematika. Saat itu Guru menerangkan matematika dengan sangat tegas dan jelas. Ani terlihat seperti cemas dan takut.
"Kamu ngapain?, dengerin itu gurunya malah asyik sendiri"
"Ehh siapa yang asyik sendiri?, liat dong aku lagi gemeteran gini juga"
"Keliatan kalau tadi malam ngak belajar kan?"
"Belajar kok"
"Tapi dikit?, makanya belajar jangan setengah-setengah, jadi gitu hasilnya"
"Halah, kayak kamu bisa-bisa aja"
"Loh kan yang penting aku udah belajar"
Guru menunjuk Ani untuk maju mengerjakan soal, Ani yang saat itu merinding berubah menjadi tambah merinding. Ani sangat tidak menyukai matematika. Begitu pula dengan Alya, Tapi Alya rajin belajar matematika meskipun dia tidak begitu bisa. Ani maju kedepan. Sayang seribu kali sayang, Matematika soal aljabar itu tak dapat ia selesaikan dengan baik. Ani sangat malu, bahkan ia kini sangat membenci matematika.
"Hah.. Benci aku sama matematika"
"Usst.. Jangan gitu... ya belajar lah, matematika ngak susah kok kalau kamu rajin percaya deh sama aku"
"Emang kamu udah pintar matematika Al?, kan belum"
"Setidaknya aku mau mencoba Ni, ya hasilnya liat aja nanti" Ucap Alya, "Udah ah, kerjain soal matematika ini, kamu ngajak aku ngomong kapan selesainya?"
"Iya deh"
Saat itu, tugas Alya sudah selesai, bahkan dia orang 1 yang selesai. Akhirnya Alya diminta untuk maju tanpa membawa buku mengerjakan soal nomor 1 di papan. Tak disangka Alya yang dulunya bodoh dalam matematika kini menjadi pintar dalam matematika. Ani teman sebangkunya kaget melihat Alya. Yang Ani tau Alya adalah anak yang suka mules-mules kalau ada pelajaran matematika.
"Wow. kamu bisa ngerjain? Congrat yaa"
"Hasil dari belajar ya gitu, sekarang aku udah buktiin kan kekamu kalau matematika itu mudah kok, asal mau belajar. Gini ya, aku belajar dari kesalahanku dulu SD yang ngak suka sama matematika, sampai nilaiku merah. Tapi itu jadi acuan buat aku untuk lebih semangat belajar, bukan nge-drop gitu, jadi matematika jangan dijadikan ujian atau cobaan hidup yang berat, Haha" (sambil tertawa)
"Alay banget ngomongnya"
"Yang penting kan omonganku ngak OOD (Omong-Omong Doang)"
"Ya deh, sekarang aku berusaha menyukai matematik secara terpaksa"
"Loh, kok terpaksa?. Tulus dong?" (dengan mengelus bahu Ani)
"Iya, InshaAllah aku tulus menyukai matematik. Dan sekarang aku mau banyak belajar sama kamu, mau kan kamu ngajarin?"
"Siap deh Ni, maulah" (sambil tersenyum)
Sekarang Ani yang dulunya tidak suka, membenci matematika kini setiap dia maju, dia dapat mengerjakan tanpa buku. Bahkan sekarang nilai matematika Ani dan Alya rata-rata 90 yang dulunya 60. Kini Ani dan Alya tidak dicap sebagai Haters Matematik. melainkan Matematik Lovers.
Karya: Catur Surya Waskitowati
0 komentar:
Posting Komentar